Tahun 2009 yang lalu, Kabupaten Lamongan mengalami surplus produksi gabah dan menjadi kabupaten penghasil gabah terbesar se-Jawa Timur. Dengan alasan tersebut maka pantaslah jika Kabupaten Lamongan menjadi satu-satunya Kabupaten di Jawa Timur yang dipilih menjadi pilot project dalam program Penanganan Panen dan Pasca Panen oleh FAO yang bekerja sama dengan Dit. Penanganan Pasca Panen, Ditjen PPHP dan Kementan Republik Indonesia, bersama Kabupaten Subang dari Propinsi Jawa Barat.
FAO bersama Dinas Pertanian Kabupaten Lamongan, melaksanakan pelatihan-pelatihan mulai dari semua petugas penyuluh lapangan (PPL) se-Kabupaten Lamongan sampai dengan grup pemanen yang diwakili oleh beberapa Gapoktan yang ada di Lamongan. Materi yang disampaikan dalam pelatihan tersebut meliputi tujuan dari penanganan panen dan pasca panen, perbandingan sistem panen secara konvensional dan modern (menggunakan mesin), diskusi tentang permasalahan yang dihadapi dari masing-masing grup pemanen,dll. Banyak sekali permasalahan yang dibahas terkait dengan penggunaan mesin pemanen ( Power Treser ) karena adanya perbedaan budaya/kebiasaan di masing-masing tempat.
Di Kecamatan Turi, grup pemanen yang dipilih oleh Kantor UPT Dinas Pertanian Kecamatan Turi sebagai peserta pelatihan yaitu Gapoktan “Waluyo Jati Rejo” dari Desa Wangunrejo Kecamatan Turi Kabupaten Lamongan yang didampingi oleh petugas penyuluh. Setelah mengikuti pelatihan tersebut, maka ditindaklanjuti dengan adanya sosialisasi ditingkat desa/Gapoktan yang dilakukan di Kantor UPT Dinas Pertanian setempat. Gapoktan secara langsung bisa membandingkan bagaimana hasil panen yang menggunakan mesin pemanen secara tradisional (digeblok, Pedal Treser) dan modern (Power Treser).
Pemanenan adalah tahapan awal yang sangat penting dan akan menentukan besarnya susut dan mutu gabah yang dihasilkan. Sedangkan penanganan pasca panen yang baik dilakukan dengan tujuan untuk mengurangi susut produk atau kehilangan hasil saat proses panen berlangsung.
0 komentar:
Posting Komentar